BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Globalisasi ekonomi telah melanda dunia pada abad sekarang ini. Semua insan
pelaku bisnis harus mampu mengantisipasi perkembangan yang ada bila ingin
mempertahankan keberadaan di dunia bisnisnya. Ekonomi global menuntut kita
untuk bersaing dalam iklim yang sehat di segala bidang, baik bidang perusahaan
pelayaran maupun produksi yang dihasilkan. Untuk menciptakan daya saing
tersebut, PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia II cabang Tanjung Priok harus mampu
dan siap menghadapi tantangan yang ada. Untuk menghadapi tantangan itu, perlu
adanya persiapan mengenai sistem pengoperasian jasa kepelabuhanan yang mampu
menjawab tantangan masa sekarang dan masa yang akan datang.
Kegiatan operasional bongkar dan muat barang umum (general cargo) di dermaga konvensional pelabuhan Tanjung Priok
dilakukan dengan dua cara, yaitu bongkar muat secara langsung dan bongkar muat
melalui gudang / lapangan penumpukan. Pada hakekatnya pembongkaran atau
pemuatan dengan cara langsung (truck
lossing) hanya dilakukan pada barang-barang tertentu misalnya :
barang-barang berbahaya yang tidak boleh ditimbun di gudang / lapangan dan
barang-barang strategis misalnya beras, gula, semen, dan lain-lain.
Kenyataannya akhir-akhir ini berkembang kecendrungan bongkar muat terhadap
barang-barang lain dengan cara truck lossing, kecendrungan ini sebabkan biaya
lebih murah, tetapi akibatnya kapal bertambat lebih lama dan biaya dipelabuhan
menjadi besar dan juga performa atau kinerja akan lebih jelek, Berth Time lebih lama, Berth Through Put lebih kecil, Ton Per Ship Hour at Berth lebih kecil dan
lain-lain. Penanganan pelayanan barang-barang sebelum dimuat, ditumpuk terlebih
dahulu di gudang atau lapangan penumpukan dan disusun sedemikian rupa agar
sesuai dengan rencana urutan pemuatan. Urutan pemuatan diperlukan untuk
memudahkan pembongkaran di pelabuhan tujuan dan untuk kepentingan stabilitas
kapal, penyusunan berat muatan dalam palka harus seimbang. Selama ini pemuatan
atau pembongkaran melalui penimbunan ternyata lebih cepat dianding dengan truck
lossing yang sering mendapat hambatan, misalnya jumlah truck kurang atau
terlambat karena lalu-lintas padat.
Pada pelabuhan standard maksimal yang ditetapkan dalam penggunaan dermaga yang efektif adalah 80% dari
panjangnya dermaga. Secara umum, banyak penyebab rendahnya persentase kinerja
suatu dermaga, diantaranya disebabkan oleh rendahnya kecepatan bongkar muat dan
pelayanan penanganan kapal. Oleh sebab itu dibutuhkan kesiapan alat yang
berstandar internasional untuk menangani bongkar muat general cargo dan peti
kemas, penempatan tenaga bongkar muat yang tepat disertai disiplin yang tinggi,
mekanisme kerja tersusun dengan baik, utilisasi alat yang maksimal dan juga
dapat dilakukan dengan memberikan pelayanan dan cara kerja yang efektif dalam
prosedur penanganan kapal beserta muatan yang ada didalamnya.
Berbagai macam kendala di temui dalam memaksimalkan penggunaan dermaga
dengan harapan dapat efektif dan efisien. Adapun kendala-kendala tersebut
antara lain : Masih tingginya Waiting
Time (waktu tunggu) kapal; Masih terjadi keterlambatan Bongkar Muat Kapal;
Masih rendahnya Berth Trought Put
(daya lalu barang di dermaga); Masih rendahnya kecepatan rata-rata bongkar muat
general cargo (ton per gang hour); Masih rendahnya kecepatan rata-rata bongkar
muat peti kemas (box crane hour);
Kinerja dermaga belum sesuai dengan yang diharapkan karena berth time yang
lama.
PBM. Pandawa Lima merupakan
salah satu anak perusahaan PT.Baruna
Shipping Lines yang bergerak dibidang jasa yaitu bongkar muat
petikemas,Dimana saya
berpraktek kerja. Aktivitas yang dilakukan disini adalah menyimpan petikemas
kosong yang akan dan atau telah digunakan untuk kegiatan ekpor impor sebagai
tempat penumpukan petikemas kosong, membersihkan petikemas yang akan digunakan,
membetulkan bila ada kerusakan pada petikemas. PT. Baruna Shipping Lines tidak
memiliki petikemas sendiri tetapi hanya memberikan fasilitas.
Untuk dapat melayani penanganan pelayanan peti kemas dibutuhkan peralatan
yang baik dan siap pakai antara lain Side Loader, Top Loader, Forklift, dll.
Selain itu dibutuhkan sumber daya manusia yang handal untuk dapat melaksanakan
kegiatan pengoperasiannya.
Dengan memperhatikan kondisi tersebut dan mengindentifikasi peluang yang
mempunyai potensi dan prospek yang cukup besar untuk pelayanan jasa tersebut, PBM.Pandawa Lima menawarkan produk jasa penanganan pelayanan kegiatan
peti kemas dengan melengkapi fasilitas pelayanan terhadap para pelanggan dengan
lebih memfokuskan usahanya untuk memenuhi kepuasan pelanggan. Oleh karena itu
dalam ketatnya persaingan, PBM. Pandawa lima yang bergerak dibidang tempat
penitipan peti kemas / depo peti kemas secara sadar berupaya keras untuk
mempertahankan eksistensi perusahaan dengan meningkatkan mutu pelayanan demi
kepuasan pelanggan. Selain itu perusahaan harus memperhatikan mengenai sumber
daya manusia agar kepuasan pelanggan dapat tercapai. Hal ini merupakan masalah tersendiri dalam pengoperasian bongkar muat di
pelabuhan Tanjung Priok, dimana PBM Pandawa Lima melakukan kegiatan bongkar muat.
Dari uraian tersebut penulis
tertarik untuk mengadakan penelitian dan mengambil judul yaitu “PENGARUH
KECEPATAN BONGKAR MUAT TERHADAP KINERJA OPERASIONAL PADA PBM. PANDAWA LIMA (PT.
BARUNA SHIPPING LINES) TAHUN 2010”
B. Perumusan Masalah
1. Identifikasi Permasalahan
Berdasarkan latar belakang
judul penelitian , maka identifikasi masalahnya adalah sebagai berikut :
a. Masih tingginya
Waiting Time (waktu tunggu) kapal di
dermaga.
b. Masih rendahnya
Berth Trought Put (daya lalu barang
dermaga) di dermaga.
c. Masih rendahnya
kecepatan bongkar muat general cargo dan peti kemas di dermaga, sehingga masih
terjadi keterlambatan bongkar muat kapal di dermaga.
d. Pelayanan yang
diberikan masih belum memuaskan.
2. Pembatasan Masalah
Sehubungan keterbatasan waktu,
dana dan teori-teori, agar penelitian dapat dilakukan secara lebih mendalam,
maka tidak semua masalah yang telah diidentifikasikan dapat diteliti, untuk itu
penulis memberi batasan masalah pada : Pengaruh kecepatan bongkar muat terhadap
kinerja operasional pada PBM. Pandawa Lima tahun 2009.
3. Pokok Permasalahan
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka penulis dapat merumuskan
masalah sebagai berikut :
a. Bagaimana kecepatan bongkar muat pada PBM. Pandawa Lima tahun 2009 ?
b. Bagaimana kinerja operasional pada PBM. Pandawa Lima tahun 2009?
c. Sejauh mana pengaruh kecepatan bongkar muat terhadap kinerja operasional
pada PBM. Pandawa Lima tahun 2009?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah :
a. Untuk
mengetahui bagaimana kecepatan bongkar muat pada PBM. Pandawa Lima tahun 2009.
b. Untuk
mengetahui bagaimana kinerja operasional pada PBM. Pandawa Lima tahun 2009.
c. Untuk
menganalisis sejauh mana pengaruh kecepatan bongkar muat terhadap kinerja
operasional pada PBM. Pandawa Lima tahun 2009.
2. Manfaat Penelitian
a. Bagi Penulis
Menambah khasanah dan wawasan ilmiah bagi penulis khususnya dalam hal
sumber daya manusia. Disamping itu penelitian ini bertujuan untuk memenuhi
persyaratan akademis dalam rangka mendapat gelar Sarjana Ekonomi Tranportasi
Laut program S1 di Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti Jakarta.
b. Bagi Pengembangan dan Ilmu Pengetahuan
Sebagai sumbangan pemikiran dan sumber analisis kepada para pembaca dan
penambahan referensi bagi mahasiswa dan masyarakat umum.
c. Bagi Perusahaan
Penelitian ini merupakan sumbangan pikiran dari penulis dalam rangka
pengembangan manajemen perusahaan dan dapat dijadikan bahan masukan bagi
perusahaan dalam menganalisis dan mengambil keputusan untuk menentukan
kebijakan yang akan diambil berkenaan dengan kinerja operasional pada PBM.
Pandawa Lima.
D. Metodologi Penelitian
1. Jenis dan
Sumber Data
Jenis data
dalam penelitian ini adalah data kualitatif dalam bentuk angket dan data
kuantitatif dalam bentuk skor jawaban responden pada setiap pernyataan angket.
Sedangkan sumber data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh penulis
melalui kuesioner atau angket yang disebar kepada pekerja secara acak (random).
2. Populasi dan
Sampel
Dimana
populasi dalam penelitian ini adalah pelanggan dan pegawai pada PBM. Pandawa
Lima. Sampel adalah bagian dari populasi. Adapun sampel yang diambil adalah
sedikitnya 30 orang yang dianggap dapat mewakili pelanggan dan pegawai bongkar
muat pada PBM. Pandawa Lima.
3. Teknik
Pengumpulan Data
a. Penelitian Lapangan (Field Research)
Untuk memperoleh data primer melalui riset lapangan,
maka penulis akan menggunakan teknik sebagai berikut :
1) Observasi
Yaitu dengan melakukan pengamatan langsung
pada obyek yang diselidiki.
2) Angket
Yaitu pengumpulan data yang
dilakukan dengan cara menyampaikan daftar pertanyaan tertulis untuk meminta
keterangan atau jawaban dan informasi yang dibutuhkan, dari 30 responden. Pada
penelitian ini setiap butir pernyataan responden yang bersifat kualitatif akan
diubah menjadi kuantitatif dengan menggunakan Skala Likert. Jawaban pernyataan diberikan bobot nilai yang berdasarkan skala 5 (lima),
di mana pada variabel X (kecepatan bongkar muat) dan variabel Y (kinerja
operasional) setiap jawaban pernyataan mempunyai nilai sebagai berikut :
Tabel I.1
Bobot Nilai Jawaban Pertanyaan
Pilihan Jawaban
|
Singkatan
|
Bobot Nilai
|
Sangat Setuju
|
SS
|
5
|
Setuju
|
S
|
4
|
Ragu-ragu
|
RG
|
3
|
Tidak Setuju
|
TS
|
2
|
Sangat Tidak Setuju
|
STS
|
1
|
Sumber
: Sugiyono, ( 2006 : 107 )
b. Penelitian
Kepustakaan (Library Research).
Agar
skripsi ini tidak menyimpang jauh dari teori-teori yang ada dan untuk
memperoleh data sekunder guna melengkapi data yang sudah tersedia, maka dalam
riset kepustakaan ini penulis menggunakan beberapa literatur berupa buku-buku,
majalah, jurnal, dan bahan pustaka lainnya.
4. Metode
Analisis Data
Metode analisis data yang akan
digunakan penulis dalam mengolah data menggunakan perhitungan secara manual
dengan rumus sebagai berikut :
a. Analisis
regresi linier sederhana
Analisis ini digunakan untuk
mengetahui pengaruh proporsional antara variabel kecepatan bongkar muat (X)
terhadap variabel kinerja operasional (Y). Menurut Sugiyono (2006 : 237) rumus
regresi linear sederhana adalah sebagai berikut :
Y=a+bX
|
Dimana
:
X = Variabel
bebas (kecepatan bongkar muat)
Y = Variabel
terikat (kinerja operasional)
a = Konstanta
(bilangan tetap)
b = Koefisien regresi
n = Jumlah
sampel
Adapun rumus
untuk mencari nilai a dan b adalah :


b. Analisis
koefisien korelasi sederhana
Analisis ini digunakan untuk mengetahui
kuat atau lemahnya pengaruh antara variabel X (kecepatan bongkar muat) dengan
variabel Y (kinerja operasional). Menurut Sugiyono (2006 : 238) rumus koefisien
korelasi atau r adalah sebagai berikut :

Dimana :
n = Jumlah
sampel
r = Koefisien
korelasi
X = Variabel
bebas (kecepatan bongkar muat)
Y = Variabel
terikat (kinerja operasional)
Untuk dapat memberi interpretasi terhadap kuat -
lemahnya hubungan tersebut, maka penulis menggunakan pedoman seperti yang
tertera pada tabel berikut ini :
Tabel I.2
Interpretasi Tingkat Hubungan X dan Y
Interval Koefisien
|
Tingkat Hubungan
|
0,00 – 0,199
|
Sangat rendah
|
0,20 – 0,399
|
Rendah
|
0,40 – 0,599
|
Sedang
|
0,60 – 0,799
|
Kuat
|
0,80 – 1,000
|
Sangat Kuat
|
Sumber : Sugiyono, ( 2006 : 214 )
Dengan demikian maka nilai r dinyatakan sebagai
berikut :
1) Jika r = 1 atau mendekati 1, maka
hubungan antara variabel X dan variabel Y sangat kuat dan positif
2) Jika r = -1 atau mendekati -1, maka
hubungan antara variabel X dan variabel Y sangat kuat tetapi negatif
3) Jika r = 0 atau mendekati 0, maka
tidak ada hubungan antara variabel X dan variabel Y atau hubungannya sangat
lemah.
c. Analisis
Koefisien Penentu ( KP )
Merupakan besarnya kontribusi atau
sumbangan variabel X (kecepatan bongkar muat) terhadap variabel Y (kinerja
operasional) dalam persentase dengan rumus sebagai berikut :
KP = r² . 100%
Dimana :
KP = Koefisien Penentu
r = Koefisien korelasi
d. Analisis
Pengujian Hipotesis
Digunakan
untuk menguji apakah variabel X dan Y memiliki pengaruh yang signifikan atau
tidak, di mana rumus yang digunakan adalah dengan uji satu arah dengan
tahap-tahap sebagai berikut :
1) Hipotesis
awal
Ho: ρ = 0. Artinya
tidak ada pengaruh positif variabel X dengan variabel Y
Ha : ρ > 0. Artinya
ada pengaruh positif variabel X dengan variabel Y
Ha : ρ < style="mso-tab-count:1"> Artinya ada
pengaruh yang negatif variabel X dengan variabel Y
2) Rumus Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan cara
membandingkan nilai thitung dengan ttabel. Untuk
menghitung nilai thitung digunakan rumus sebagai berikut :

3) Untuk mengetahui nilai ttabel
digunakan tabel distribusi t pada taraf kesalahan α = 0,050 dk = n – 2.
0 t(α;n-2)
|

4) Membandingkan t table dengan
t hitung
a) Jika t hitung
<>tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya tidak terdapat
pengaruh yang signifikan kecepatan bongkar muat terhadap kinerja operasional
pada PBM. Pandawa Lima.
b) Jika t hitung
> t tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya terdapat
pengaruh yang signifikan kecepatan bongkar muat terhadap kinerja operasional
pada PBM. Pandawa Lima.
Dalam proses analisis data digunakan
alat bantu software SPSS (Statistical
Program For Social Science) Versi 17.
E. Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah yang ada, maka penulis memberikan hipotesis
awal, yaitu diduga terdapat pengaruh kecepatan bongkar muat terhadap kinerja
operasional pada PBM. Pandawa Lima.
F. Sistematika
Penulisan Skripsi
Sistematika penulisan skripsi ini secara keseluruhan disiapkan dalam lima
Bab, dengan sistematika sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini menguraikan latar belakang masalah, perumusan masalah, yang
meliputi identifikasi masalah, pembatasan masalah dan pokok masalah, tujuan dan
manfaat penelitian, metodologi penelitian, hipotesis serta sistematika
penulisan skripsi.
BAB II : LANDASAN TEORI
Dalam bab ini akan dibahas mengenai teori yang berkenaan dengan
permasalahan yang akan dibahas, yaitu teori tentang manajemen operasi
,kecepatan bongkar muat, kinerja dan teori lain yang terkait dengan obyek
penelitian ini.
BAB III : GAMBARAN UMUM PBM. PANDAWA
LIMA
Dalam bab ini mengenai gambaran umum PBM. Pandawa Lima yang berisi sejarah
singkat perusahaan, organisasi dan manajemen serta kegiatan usaha operasinya.
BAB IV : ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dibahas mengenai analisis kecepatan bongkar muat,
analisis kinerja operasional dan analisis pengaruh kecepatan bongkar muat
terhadap kinerja operasional.
BAB V : PENUTUP
Merupakan bab terakhir berisi
kesimpulan dari seluruh analisis dan pembahasan, serta saran-saran penulis,
yang disesuaikan dengan tujuan dan kegunaan penelitian yang telah ditentukan
dalam bab I.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Manajemen
Operasional
Pengertian manajemen menurut Husaini Usman (2006:214) adalah: ”Manajemen
adalah suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencaan
,pengorganisasian ,menggerakan dan pengendalian yang dilakukan untuk mencapai
sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia
dan sumber-sumber lainya”.
Pengertian manajemen menurut M. Manulang (1996:14) adalah: “Manajemen
adalah kumpulan pengetahuan tentang bagaimana seharusnya mamanage atau
mengelola sumber daya manusia untuk mencapai tajuan yang sudah ditetapkan”.
Sedangkan pengertian manajemen operasional menurut Kichart L. Draft
(2006:216) adalah : “Manajemen operasional adalah bidang manajemen yang
mengkhususkan pada produksi barang dan jasa.serta menggunakan alat-alat dan
tekhnik-tehknik khusus untuk memecahkan masalah-masalah produksi”
Dari definisi di atas terlihat bahwa manajemen merupakan “proses”, bukan
“seni”. Manajemen sebagai “seni” mengandung arti bahwa hal itu adalah kemampuan
atau keterampilan pribidi, sedangkan suatu “proses” adalah cara sistematis
untuk melakukan pekerjaan.manajemen didefinisikan sebagai proses karena semua
manajer tanpa harus memperhatikan kecakapan atau keterampilan khusus,harus
melaksanakan kegiatan-kegiatan yang saling berkaitan dalam pencapaian tujuan
yang diinginkan.
Berdasarkan uraian diatas disimpulkan bahwa pada dasarnya manajemen
merupakan kerjasama dengan orang-orang untuk menentukan, menginterpretasikan
dan mencapai tujuan–tujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi
perencanaan (planning),
pengorganisasian (organizing),
pengarahan (actuating), dan
pengawasan (controling).
Sampai sekarang belum ada suatu teori manajemen dapar ditetapkan pada semua
situasi.seorang manajer akan menjumpai banyak pandangan tentang manajemen
.setiap pandangan mungkin berguna untuk berbagai masalah yang berbeda-beda ada
tiga aliran pemikirian manajemen yaitu:
- Aliran klasik
- Aliran hubungan manusiawi
- Aliran manajemen modern
- Tingkatan manajemen dalam organisasi akan membagi manajer menjadi tiga golongan yaitu berbeda:
a. Manajer lini pertama
Tingkat paling rendah dalam suatu organisai yang memimpin dan mengawasi tenaga-tenaga
operasional disebut manajemen lini (garis) pertama
b. Manajer menengah
Manajemen menengah dapat meliputi beberapa tingkatan dalam suatu
organisasi.para manajer menengah membawahi dan mengarahkan kegiatan-kegiatan
para manajer lainnya dan kadang-kadang juga karyawan operasional.
c. Manajer puncak
Klasifikasi manajer tertinggi pada suatu organisasi manajemen puncak
bertanggung jawab atas keseluruhan manajemen organisasi
- Fungsi-fungsi manajemen
Di bawah ini dikemukakan beberapa contoh fungsi-fungsi manajemen yang
antara lain menurut George.R.Terry yang terdiri dari:
a. Planning (perencanaan)
b. Organizing (pengorganisasian)
c. Actuating (penggerakan)
d. Controlling (pengawasan)
Fungsi
manajemen menurut Henry Fayol, yaitu :
a. Planning (perencanaan)
b. Organizing (pengorganisasian)
c. Coordinating (pengkoordinasian)
d. Commanding (perintah)
e. Controlling (pengawasaan)
Fungsi
manajemen merurut L.M Gullick,yaitu :
a. Planning
b. Organizing
c. Staffing
d. Directing
e. Coordinating
f. Reporting
g. Budgetting
Fungsi
manajemen menurut A.F.Stoner yaitu:
a. Planning
b. Organizing
c. Leading
d. Controlling
Dalam pembahasaan berikut ini kami akan menjelaskan secara garis besar
sebagian dari fungsi-fungsi tersebut yaitu: planning,
organizing, actuating dan controlling.
a. Fungsi perencanaan (Planning)
Sebelum seorang manajer dapat mengorganisasi, mengarahkan dan mengawasi,
mereka haruslah membuat rencana yang memberikan tujuan dan arah organisasi
,perencanaan adalah pemilihan dan penetapan kegiatan ,selanjutnya apa yang
harus dilakukan, kapan bagaimana dan oleh siapa perencanaan adalah suatu proses
yang tidak berakhir bila rencana tersebut telah ditetapkan ,rencana haruslah
diimplementasikan .setiap saat selama proses implementasi dan pengawasan
rencana-rencana mungkin memerlukan perbaikan agar tetap berguna ,perencanaan
kadang-kadang dapat menjadi faktor kunci agar mampu menyesuaikan diri dengan
situasi dan kondisi baru secepat mungkin salah satu aspek yang juga penting
dalam perencanaan adalah pembuatan keputusan (making decision).proses
pengembangan dan penyeleksian sekumpulan kegiatan untuk memecahkan suatu masalah
tertentu.
Ada empat tahapan dalam perencanaan, yaitu:
1) Menetapkan tujuan atau serangkain tujuan
2) Merumuskan keadaan saat ini
3) Mengidentifikasikan segala
peluang dan hambatan
4) Mengembangkan rencana atau
serangakain kegiatan dalam percapaian tujuan
Ada dua alasan mengapa perencanaan diperlukan yaitu untuk mencapai:
1) ”Protective benefits”
merupakan hasil dari pengurangan kemungkinan terjadinya kesalahan dalam
pembuatan keputusan
2) ”Positive benefits”
peningkatan pencapaian tujuan organisasi
Ada beberapa manfaat perencanaan antara lain:
1) Membantu manajemen dalam menyesuaikan diri dengan
perubahan-perubahan lingkungan .
2) Perencanaan terkadang
cenderung menunda kegiatan
3) Perencanaan mungkin terlalu
membatasi manajemen untuk berinisiatif dan berinovasi .kadang-kadang hasil yang
paling baik didapatkan oleh penyelesaian situasi individu dan penanganan setiap
masalah pada saat masalah tersebut terjadi
b. Fungsi pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian merupakan proses penyusunan struktur organisasi yang
sesuai tujuan organisasi sumber daya yang dimilikinya dan lingkungan yang
melingkupinya dua aspek utama proses susunan struktur organisasi yaitu
departementalisasi dan pembagian kerja .departementalisasi adalah
pengelompokkan kegiatan-kegiatan kerja organisasi agar kegiatan-kegiatan
sejenis saling berhubungan dapat dikerjakan bersama. Hal ini akan tercemin pada
struktur formal suatu organisasi dan tampak atau ditunjukkan oleh bagian suatu
organisasi. pembagian kerja adalah perincian tugas pekerjaan agar setiap
individu pada organisasi bertanggung jawab dalam melaksanakan sekumpulan
kegiatan .kedua aspek ini merupakan dasar proses pengorganisasian suatu
organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efisien dan
efektif.
Ada beberapa pengertian organisasi antara lain yaitu:
1) Cara manajemen merancang struktur formal untuk
penggunaan yang paling efektif sumber daya yang ada
2) Bagaimana organisasi mengelompokan kegiatan-kegiatanya
dan pada tiap kelompok diikuti dengan penugasan seorang manajer yang di beri
wewenang utnuk mengawasi anggota –anggota kelompok
3) Hubungan –hubungan antara fungsi-fungsi
jabatan-jabatan tugas-tugas dan para karyawan
4) Cara para manajer membagi tugas-tugas yang harus
dilaksanakan dalam departemen mereka dan mendelegasikan wewenang yang
diperlukan dalam pelaksanaan tersebut.
Pengorganisasian merupakan suatu proses untuk merancang struktur formal
mengelompokan dan mengatur serta membagi tugas-tugasatau pekerjaan diantara
para anggota organisasi dapat dicapai dengan efisien ada beberapa aspek penting
dalam proses pengorganisasian , yaitu:
1) Bagan organisasi formal
2) Pembagian kerja
3) Departemntalisasi
4) Rantai perintah atau kesatuan perintah
5) Tingkat-tingkat hirarki
manajemen
6) Saluran komunikasi
7) Rentang manajemen dan kelompok
informal yang dapat dihindarkan
Bentuk struktur organisasi bermacam-macam, tetapi pada pokoknya ada empat
yaitu organisasi line (line organization),
organisasi garis dan staff (line and
staff organization),organisasi fungsional (functional organization),dan
organisasi Matriks (matrix organization)
c. Fungsi pengarahan (Actuating)
Pengarahan merupakan hubungan manusia dalam kepemimpinan yang mengikat para
bawahan agar bersedia mengerti menyumbangkan tenaganya secara efektif serta
efisien dalam pencapaian tujuan suatu organisasi. Di dalam manajemen,
pengarahan ini bersifat sangat kompleks karena disamping menyangkut manusia
juga menyangkut berbagai tingkah laku dari manusia-manusia itu sendiri. Manusia
dengan berbagai tingkah lakunya yang berbeda-beda. ada beberapa prinsip yang
dilakukan oleh pemimpin perusahaan dalam melakukan pengarahan yaitu :
1) Prinsip mengarah kepada
tujuan.
2) Prinsip keharmonisai denang tujuan.
3) Prinsip kesatuan komando.
Pada umumnya pimpinan menginginkan pengarahan kepada bawahan dengan maksud
agar mereka bersedia untuk bekerja sebaik mungkin dan diharapkan tidak menyimpang
dari prinsip-prinsip di atas.
Cara-cara pengarahan yang dilakukan dapat berupa:
1) Orientasi
Merupakan cara pengarahan dengan memberikan informasi yang perlu supaya
kegiatan dapat dilakukan dengan baik
2) Perintah
Merupakan permintaan dari pimpinan kepada orang yang berada di bawahnya
untuk melakukan atau mengulangi suatu kegiatan tertentu pada keadaan tertentu
3) Delegasi wewenang
Dalam pendelegasian wewenang ini pimpinan melipahkan sebagian dari wewenang
yang dimilikinya kepada bawahannya
d. Fungsi pengawasan (controlling)
Pengawasan merupakan suatu proses untuk menjamin bahwa tujuan-tujuan
organisasi dan manajemen tercapai. Pengawasan manajemen adalah usaha
sisitematik untuk menetapkan setandar pelaksanaan dengan tujuan perencanaan,
membandingkan kegiatan nyata dengan tujuan-I perencanaan, membandingkan
kegiatan nyata dengan standard yang di tetapkan sebelumnya menentukan dan
mengukur penyimpangan –penyimpangan serta mengambil tindakan koreksi yang
diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan untuk
menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan dengan cara paling
efektif dan efisiensi dalam pencapaian tujuan-tujuan perusahaan .ada tiga–tipe
pengawasan yaitu:
1) Pengawasan pendahuluan
1) Pengawasan pendahuluan
Dirancang untuk mengantisipasi adanya penyimpangan dari tujuan dan
memungkinkan koreksi dibuat sebelum suatu tahap kegiatan tertentu diselesaikan
2) Pengawasan yang dilakukan bersama
dengan pelaksanaan kegiatan
Merupakan proses dimana aspek tertentu dari suatu prosedur harus di setujui
dulu atau syarat tertentu harus dipenuhi dulu sebelum kegiatan-kegiatan bisa
dilanjutkan untuk menjadi semacam peralatan pemeriksa kedua yang telah menjamin
ketepatan pelaksanaan kegiatan
3) Pengawasan umpan balik
Permasalahan yang di hadapi oleh eksekutif dalam pengawasan karena harus
melakukan koordinasi terhadap tiga komunikasi, koordinasi, dan kerja sama
sangatlah vital, sehingga di perlukan sekali perhaian terhadap masalah dan cara
pengawasan terhadapnya (cara kerja dan sikapnya)
B. Bongkar Muat
1. Pengertian Bongkar
Menurut Badudu (1994:200) Bongkar diterjemahkan sebagai: “Bongkar berarti
mengangkat, membawa keluar semua isi sesuatu, mengeluarkan semua.” Sedangkan
menurut Forum Komunikasi Operator Terminal Asosiasi PBM Jakarta (2002:10):
“Bongkar adalah kegiatan membongkar barang muatan dari kapal,”
Adapun menurut F.D.C. Sudjatmiko (1997:348): Pembongkaran merupakan suatu
pemindahan barang dari suatu tempat ke tempat lain dan bisa juga dikatakan
suatu pembongkaran barang dari kapal ke dermaga, dari dermaga ke gudang atau
sebaliknya dari gudang ke gudang atau dari gudang ke dermaga baru diangkut ke
kapal.
2. Pengertian Muat
Pengertian Muat menurut Badudu (1994:941) : “Berisi, pas, cocok, masuk ada
didalamnya, dapat berisi, memuat, mengisi, kedalam, menempatkan.’ Sedangkan
menurut Forum Komunikasi Operator Terminal (2002:10) adalah: “Muat adalah
kegiatan memuat barang muatan ke kapal.”
3. Pengertian Bongkar Muat
Menurut Dirk Koleangan, pengertian kegiatan Bongkar Muat adalah sebagai
berikut: Kegiatan Bongkar Muat adalah kegiatan memindahkan barang-barang dari
alat angkut darat, dan untuk melaksanakan kegiatan pemindahan muatan tersebut
dibutuhkan tersedianya fasilitas atau peralatan yang memadai dalam suatu cara
atau prosedur pelayanan.
Menurut F.D.C. Sudjatmiko (1993:348) : Bongkar Muat adalah pemindahan
muatan dari dan keatas kapal untuk ditimbun ke dalam atau langsung diangkut ke
tempat pemilik barang dengan melalui dermaga pelabuhan dengan mempergunakan
alat pelengkap bongkar muat, baik yang berada di dermaga maupun yang berada di
kapal itu sendiri. Sedangkan menurut Subandi (1989:27) yaitu: “Bongkar muat
adalah sebuah rangkaian kegiatan perusahaan terminal untuk melaksanakan
pemuatan atau pembongkaran dari dan ke atas kapal” pengertian Bongkar- Muat
menurut Amir M.S (1999:105) : Pekerjaan membongkar barang dari atas dek atau
palka dan menempatkannya ke atas dermaga (kade) atau ke dalam tongkang atau
kebalikannya, memuat dari atas dermaga atau dalam tongkang dan menempatkannya
ke atas dek atau ke dalam palka dengan menggunakan derek kapal.
Menurut Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 33 (2001:5) : Kegiatan Bongkar
Muat adalah kegiatan bongkar muat barang dari dan atas ke kapal meliputi kegiatan
pembongkaran barang dari palka kapal ke atas dermaga di lambung kapal atau
sebaliknya (stevedoring), kegiatan pemindahan barang dari dermaga di
lambung kapal ke gudang/lapangan penumpukan atau sebaliknya (cargodoring)
dan kegiatan pengambilan barang dari gudang/lapangan dibawa keatas truk atau
sebaliknya (receiving/delivery).
Bongkar-Muat menurut PP. No. 17/1988 didefinisikan sebagai: “Suatu kegiatan
jasa yang bergerak yang membongkar ataupun memuat benda atau barang baik dari
kapal atau ke kapal yang meliputi dari kegiatan stevedoring, cargodoring dan
receiving-delivery”.
Keputusan Menteri Perhubungan berdasarkan Undang-undang No.21 Tahun 1992,
KM No.14 Tahun 2002, Bab I Pasal 1, Bongkar muat adalah: Kegiatan bongkar muat
barang dari dan atau ke kapal meliputi kegiatan pembongkaran barang dari palka
kapal ke atas dermaga di lambung kapal ke gudang lapangan penumpukan atau
sebaliknya (stevedoring), kegiatan pemindahan barang-barang dari dermaga
di lambung kapal ke gudang lapangan penumpukan atau sebaliknya (cargodoring)
dan kegiatan pengambilan barang dari gudang atau lapangan di bawa ke atas truk
atau sebaliknya (receiving/delivery).
Menurut KM No.25 Tahun 2002 Pasal 1 Tentang Pedoman dasar Perhitungan Tarif
Pelayaran Jasa Bongkar Muat dari dan ke kapal di pelabuhan:
a. Stevedoring : Pekerjaan membongkar barang dari
kapal ke dermaga/tongkang/truk atau memuat barang dari dermaga/tongkang/truk ke
dalam kapal sampai dengan tersusun dalam palka kapal dengan menggunakan derek
kapal atau derek darat.
b. Cargodoring : Pekerjaan melepaskan barang dari
tali/ jala-jala (eks tackle) di dermaga dan mengangkut dari dermaga ke
gudang/lapangan penumpukan selanjutnya menyusun di gudang lapangan atau
sebaliknya.
c. Receiving/delivery: Pekerjaan memindahkan barang
dari timbunan/tempat penumpukan di gudang/ lapangan penumpukan dan menyerahkan
sampai tersusun di atas kendaraan di pintu gudang/lapangan penumpukan atau
sebaliknya.
Di dalam KM. No.25 Tahun 2002 ini juga menyebutkan bahwa kegiatan bongkar
muat dibedakan menjadi:
a. Bongkar muat direede adalah : Pekerjaan membongkar
dari kapal yang tidak bersandar di dermaga ke tongkang di lambung kapal
selanjutnya megeluarkan dari tali/jala-jala (eks tackle) dan menyusun di
tongkang serta membongkar dari tongkang ke dermaga atau sebaliknya.
b. Bongkar muat langsung ke atau dari dermaga (kade
losing/loading) adalah pekerjaan membongkar muatan atau barang dari kapal
langsung ke dermaga dan selanjutnya mengeluarkan dari tali/jala-jala (eks tackle)
serta menyusun di truck/ tongkang atau sebaliknya.
Mengacu pada beberapa pengertian diatas mengenai Bongkar Muat, maka penulis
mencoba membuat suatu kesimpulan yaitu bongkar muat adalah suatu proses
kegiatan pemindahan barang dari dan ke atas kapal dengan menggunakan alat
bongkar muat yang tersedia di pelabuhan tempat kegiatan bongkar muat itu
dilaksanakan.
C. Kecepatan
Bongkar Muat
Sebelum menguraikan lebih lanjut mengenai hakekat bongkar muat, terlebih
dahulu perlu dijelaskan tentang pengertian istilah bongkar muat. Bongkar muat
merupakan kegiatan memindahkan muatan dari suatu alat angkut ke dermaga / alat
angkut lainnya atau sebaliknya. Bongkar muat memegang peranan yang sangat
penting dalam operasi dermaga. Menurut pendapat beberapa pakar tentang Bongkar
Muat adalah :
”Kecepatan Bongkar Muat Barang merupakan kecepatan kerja bongkar muat
barang dari kapal ke dermaga dan atau sebaliknya ” FDC. Sudjatmiko (2004 :
157).
Demikian juga Suranto ( 2004 : 75) berpendapat :
“Kecepatan Kerja Bongkar Muat Kapal tergantung pada jumlah siklus (hook cycle) setiap jam dan berat barang
yang diangkut dalam setiap siklus”.
Menurut Suryono (2003 : 234)
”Kecepatan dari ship operation (Bongkar muat kapal) ditentukan oleh, jumlah
siklus dalam satu jam dan berat rata-rata tiap siklus serta faktor-faktor yang
mempengaruhi tiap siklus “.
Amir M.S (1997 : 72) dalam bukunya mengatakan bahwa : Kegiatan Bongkar Muat
(Loading
/ Unloading) lazim juga disebut dengan stevedoring yang
dilakukan oleh perusahaan pelayaran bersama-sama dengan Perusahaan. Pendapat
yang lain dikemukakan (Captain L.G. Tailor, 1992 ; 319) mengenai bongkar muat;
”The integration between ship and quay
procedures ; the overall transportation mode; cargo patterns ; ship types ports
facilities. The conventional, container, roll on/roll of, lash, multi-purpose
and bulk carrier vessels general descriptions and applications of each type”.
(Captain L.G. Taylor, 1992 : 319)
Menurut (Suyono, 2005 : 314) Bongkar muat meliputi Kegiatan Stevadoring, Cargodoring, Receiving/delivery.
Mengenai hal ini Suyono menjelaskan : Stevedoring
adalah pekerjaan pembongkaran barang dari kapal ke dermaga/tongkang/truk atau
memuat dari dermaga/tongkang/truk ke kapal sampai dengan menyusun dalam kapal
dengan menggunakan derek kapal atau derek darat.
Pendapat lain dari bongkar muat adalah ”
Goods are moved from one place to another, such as a quayside strorage are and
ship’s hold. There is the medium by which the cargo is transferred, which may
be manual laboar, specially designed equipment or some combination of the two.
(UNITED NATIONS : 53)
Sedangkan peralatan bongkar muat adalah alat-alat penunjang pekerjaan
bongkar muat.
”Establishments primarily engaged in activities
directly related to marine cargo handling from the time cargo, for or from a
vessel, arrives at shipside, dock, pier, terminal, staging area, or in-transit
area until cargo loading or unloading operations are completed, included in
this industry area estalishments primarily engaged in the transfer of cargo between
ship and barges, trucks, trains, pipelines, and wharfs. Cargo handling
operations carried on by transportation compantes and separately reported are
ciassified here. This industry includes the operation and manitenance of piers,
dock, and associated building and facilities” (http://
dictionary.babylon.com/Marine Cargo Handling)
Jadi Kecepatan Bongkar Muat dapat dilihat berdasarkan kecepatan Hook
Cycle / Siklus Ganco, sedangkan Hook Cycle Time adalah waktu yang
diperlukan dalam proses memindahkan barang dari palka ke dermaga dalam satu
siklus. Satu siklus hook adalah dimulai dari mengaitkan ganco kemuatan di dalam
palka kapal kemudian mengangkat barang tersebut kedermaga, lalu ganco
dilepaskan, dan seterusnya ganco kembali kedalam palka. Semakin cepat kerja per
Hook
Cycle maka semakin banyak kegiatan Bongkar Muat yang dihasilkan dan ini
dapat diukur berdasarkan satu waktu periode tertentu (jam, hari, bulan,tahun).
Kecepatan bongkar muat sangat ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya
seperti jumlah siklus dalam satuan jam dan berat rata-rata muatan serta
pemilihan peralatan yang tepat, ketersediaan Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM)
dengan SDM yang sesuai, gudang / lapangan penumpukan yang sudah siap, kondisi
jalan untuk lalu lintas mobil pengangkut tidak ada yang menghalangi serta cuaca
yang cerah. Dengan demikian apa yang diharapkan dalam kegiatan bongkar muat
akan tercapai bahkan mungkin lebih dari yang diharapkan.
Kegiatan Bongkar Muat merupakan kegiatan dalam upaya memindahkan,
memindahkan sementara, menggeser muatan dari satu kapal ke
dermaga/tongkang/truk atau sebaliknya dan dari dermaga ke gudang/lapangan
penumpukan atau sebaliknya guna kelancaran arus barang pada suatu pelabuhan.
Peralatan bongkar muat dimaksud seperti jenis alat multiporpuse (mobile crane, forklift, truck), untuk
petikemas (Container Crane, Rubber Tyred Gantry Crane, Top loader, Head Truck,
chasis, dsb), untuk curah kering (conveyor, dump, hopper, dsb). Dimana
kesemuanya adalah untuk kelancaran pelaksanaan bongkar muat di pelabuhan.
Menurut Kepmenhub No.KM 14 tahun 2002, Perusahaan Bongkar Muat (PBM) adalah
badan hukum Indonesia yang khusus didirikan untuk menyelenggarakan dan
mengusahakan kegiatan bongkar muat barang dari dan ke kapal.
Adapun Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) merupakan semua tenaga kerja yang
terdaftar pada pelabuhan setempat yang melakukan pekerjaan bongkar muat di
pelabuhan. Sedangkan Penyedia jasa bongkar muat adalah perusahaan yang
melakukan kegiatan bongkar muat dengan menggunakan Tenaga Kerja Bongkar Muat
(TKBM) dan peralatan bongkar muat.
Berdasarkan uraian di atas maka disintesiskan pengertian kecepatan bongkar
muat adalah pemenuhan standar internasional yang meliputi kualitas Sumber Daya
Manusia, perlengkapan bongkar muat, serta sarana dan prasarana pendukung lainnya.
D. Produktivitas
Pengertian produktivitas menurut Tata (1996:208) adalah sebagai berikut:
Perbandingan antara hasil fisik dengan masukan sumber daya dan atau ukuran
kinerja yang lebih luas; produktivitas mengidentifikasi keberhasilan atau
kegagalan menghasilkan barang dan jasa dalam kuantitas atau kualitas dengan
pemanfaatan yang benar dari sumber daya produktivitas berupa kriteria sumber
daya, pencapaian kerja yang diterapkan pada individu, kelompok dan organisasi.
Menurut Sinungan Muchdarsyah (1997:12) produktivitas yaitu: “Produktivitas
mengutarakan cara pemanfaatan secara baik terhadap sumber-sumber dalam
memproduksi barang-barang atau jasa.”
Menurut Ravianto. J dalam bukunya yang berjudul Pengantar Bisnis Modern,
Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, 1996. hlm.189 menyatakan:
1. Produktivitas adalah konsep universal, yang
dimaksud yaitu menyediakan banyak barang dan jasa untuk kebutuhan, semakin
banyak orang yang menggunakan semakin sedikit sumber-sumbernya.
2. Produktivitas didasarkan pada pendekatan multi
disiplin yang secara efektif merumuskan tujuan, rencana, pengembangan dan
pelaksanaan cara-cara produktif dengan menggunakan sumber-sumber daya secara
efisien namun tetap menjaga kualitas.
3. Produktivitas secara terpadu melibatkan semua usaha
manusia dengan menggunakan modal, keterampilan, teknologi, manajemen,
informasi, energi dan sumber-sumber daya lainnya. Tujuannya untuk perbaikan
kehidupan yang bermanfaat bagi seluruh kehidupan menusia melalui pendekatan
konsep produktivitas secara menyeluruh.
4. Produktivitas berbeda untuk masing-masing negara
sesuai dengan kondisi, potensi dan kekurangan serta harapan-harapan yang
dimiliki oleh negara yang bersangkutan dalam jangka pendek dan jangka panjang,
namun masing-masing negara mempunyai kesamaan dalam pendidikan, pelayanan dan
komunikasi.
5. Produktivitas lebih dari sekedar ilmu, teknologi
dan teknik-teknik manajeman, akan tetapi juga mengandung filosofis dan sikap
yang didasarkan pada motivasi yang kuat untuk mencapai mutu kehidupan yang
baik.
Sedangkan menurut Rusli Syarif (1991:62) definisi dari produktivitas
adalah: “Produktivitas adalah hubungan antara kualitas yang dihasilkan dengan
jumlah kerja yang dilakukan untuk mencapai hasil itu. Secara umum ratio antara
kepuasan atas kebutuhan dan pengorbanan yang dilakukan”.
Menurut Stonner (1992:261) mengutip definisi dari Kendrick yang menyatakan
bahwa: Hubungan antara keluaran (output = O) berupa barang dan jasa dengan
masukan (input = I) berupa sumber daya manusia atau bukan, yang digunakan dalam
proses produksi, hubungan tersebut biasanya dinyatakan dengan bentuk rasio O/I.
Dengan demikian, prouktivitas pada dasarnya adalah rasio dari keluaran
(output) terhadap masukan (input).
Output
Produktivitas = __________
Input
Dari beberapa pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan secara sederhana
bahwa produktivitas adalah tingkat kemampuan seseorang atau sekelompok orang
untuk menghasilkan barang atau jasa. Atau juga produktivitas dapat dijadikan
sebagai alat perbandingan untuk mengetahui seberapa besar produktivitas yang
dihasilkan dari rata-rata antara jumlah uang yang dicapai dengan jumlah setiap
sumber yang digunakan selama produksi berlangsung.
Dengan demikian produktivitas dalam kajian ini adalah ukuran kinerja keberhasilan
bongkar dan muat kapal Ro-Ro di pelabuhan Merak dilihat dari kuantitas dengan
pemanfaatan yang benar dari sumber daya produksi.
E. Kinerja
Operasional
Kinerja menurut Anwar Prabu
Mangkunegara (2000 : 67) “Kinerja ( prestasi kerja ) adalah hasil kerja secara
kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan
tanggung jawab yang diberikan kepadanya”.
Kemudian menurut Ambar Teguh
Sulistiyani (2003 : 223) “Kinerja seseorang merupakan kombinasi dari kemampuan,
usaha dan kesempatan yang dapat dinilai dari hasil kerjanya”. Maluyu S.P.
Hasibuan (2001:34) mengemukakan “kinerja (prestasi kerja) adalah suatu hasil
kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas tugas yang dibebankan
kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta
waktu”.
Menurut John Whitmore (1997 :
104) “Kinerja adalah pelaksanaan fungsi-fungsi yang dituntut dari seseorang,
kinerja adalah suatu perbuatan, suatu prestasi, suatu pameran umum
keterampilan”.
Kemudian menurut Barry Cushway (2002 : 1998) “Kinerja adalah menilai
bagaimana seseorang telah bekerja dibandingkan dengan target yang telah
ditentukan”.
Sedangkan Veizal Rivai ( 2004 : 309) mengemukakan kinerja adalah : “
merupakan perilaku yang nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi
kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan
perannya dalam perusahaan”.
Hasibuan
Malayu (2001 : 34) mengemukakan “kinerja (prestasi
kerja) adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan
tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan,
pengalaman dan kesungguhan serta waktu”.
Menurut diktat rumusan kinerja PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia I-IV
(2000: 205) : ”Kinerja merupakan output dari tingkat keberhasilan pelayanan
atau penggunaan fasilitas atau peralatan pelabuhan pada suatu periode (waktu
tertentu yang ditetapkan) dalam ukuran satuan waktu, satuan berat, ratio
perbandingan (persentase) atau satuan lainnya”.
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia ( 2005 : 503 ) kinerja adalah :
“Sesuatu yang dicapai/ kemampuan kerja tentang peralatan/ prestasi yang
diperhatikan”.
Kinerja suatu
pelabuhan merupakan gabungan kinerja atau out put dari dermaga-dermaga yang ada
dalam suatu pelabuhan.
Gurning (2007 : 171) berpendapat
bahwa : Kinerja operasional pelayanan barang/produktivitas bongkar muat “Suatu
gambaran dan kecepatan pelaksanaan penanganan barang yang dapat dicapai untuk
kegiatan pembongkaran barang dari atas kapal sampai ke gudang atau lapangan
penumpukan atau sebaliknya untuk kegiatan pemuatan barang sejak dari
gudang/lapangan penumpukan sampai ke atas kapal.
Kemampuan pelayanan kapal dan
barang merupakan kinerja operasional yang dapat diukur dengan melihat jumlah
muatan/barang yang secara rata-rata melewati/melalui dermaga (berth) dan gudang
(Shed) atau lapangan penumpukan (open storage) dalam satu waktu tertentu, yaitu
Berth Throughput (BTP) dan Shed
Throughtput (STP). (Bambang Leksmono, 2000 : 71)
Kemudian
Suranto (2004 : 130) berpendapat : Kinerja operasional pelabuhan adalah: “ output dari tingkat keberhasilan
pelayanan kapal, barang dan peralatan pelabuhan dalam suatu periode tertentu
yang dinyatakan dalam suatu ukuran waktu (jam), satuan berat (ton), dan
rata-rata perbandingan (persentasi), atau satuan lainnya”.
Elfrida Gultom (2007 : 64)
Mengatakan bahwa : “Kinerja Operasional suatu pelabuhan ditentukan oleh kinerja
dari terminal-terminal yang ada dipelabuhan tersebut dalam melaksanakan
kegiatan bongkar muat barang disesuaikan dengan jenis barang, kemasan barang
yang akan ditangani dan jenis kapal yang dilayani”.
Pendapat yang
hampir sama dengan pendapat di atas juga dikemukakan Arwinas Dirgahayu (1999 :
191) ia mengatakan : Kinerja operasional secara keseluruhan dapat dikelompokkan
dan terdiri dari kinerja pelayanan kapal, kinerja pelayanan barang /
produktivitas bongkar muat dan utilisasi fasilitas dan peralatan.
Fungsi kinerja operasional di
pelabuhan merupakan sebagai alat analisis untuk kepentingan manajemen dalam
mengelola pelabuhan, menentukan perencanaan operasional, untuk pengembangan
pelabuhan dan menetapkan kebijakan dalam peningkatan pelayanan.
Berdasarkan uraian
di atas maka disintesiskan pengertian Kinerja Operasional adalah tingkat
keberhasilan produktivitas dan efisiensi penggunaan fasilitas / peralatan
pelabuhan dalam melakukan kegiatan bongkar dan muat pada periode tertentu yang
didukung oleh kinerja terminal, gudang dan lapangan penumpukan.
F. Pengaruh Kecepatan Bongkar Muat Terhadap Kinerja Operasional
Kecepatan bongkar muat merupakan istilah yang
sering digunakan dalam kegiatan operasional pelabuhan. Kecepatan bongkar
merupakan waktu yang dapat digunakan dengan baik untuk melakukan pemindahan
barang dari kapal ke dermaga, gudang, lapangan penumpukan dan sebaliknya.
Pemindahan barang juga dapat dilakukan dengan truck losing demikian sebaliknya
pemuatannya. Kinerja operasional suatu dermaga di pelabuhan sangat tergantung
daripada kecepatan bongkar muat suatu dermaga. Kinerja operasional dermaga
merupakan suatu indikator yang sangat mempengaruhi produktivitas suatu
pelabuhan secara menyeluruh.
Bila kecepatan bongkar muat tidak sesuai standar
yang telah ditetapkan atau kecepatan rata-ratanya di bawah standar yang
ditetapkan maka kinerja operasional akan rendah. Bila kecepatan bongkar muat
sesuai dengan standar maka kinerja operasional dermaga dapat dinyatakan baik.
Dengan demikian diduga terdapat pengaruh positif
antara kecepatan bongkar muat dengan kinerja operasional dermaga. Artinya
semakin tinggi kecepatan bongkar muat dalam suatu dermaga maka pasti kinerja
operasional dermaga tersebut juga akan tinggi.
- Variabel kecepatan bongkar muat
a. Definisi Konseptual
Kecepatan bongkar muat adalah pemenuhan standar internasional yang meliputi
kualitas Sumber Daya Manusia, perlengkapan bongkar muat, serta sarana dan
prasarana pendukung lainnya.
b. Definisi Operasional Kecepatan Bongkar Muat
Skore Kecepatan Bongkar Muat dapat diukur berdasarkan Hook Cycle dalam kurun waktu tertentu yang didukung oleh peralatan,
SDM, kesiapan lapangan penumpukan dan jalan untuk lalu lintas kendaraan
pengangkut serta kondisi alam (cuaca) dan kondisi muatan (X1).
c. Instrumen Kecepatan Bongkar Muat
Kisi-kisi untuk mengukur variabel kecepatan bongkar muat menggambarkan
secara menyeluruh butir-butir instrument setelah diadakan uji coba untuk
mengetahui validitas dan reliablitas instrument. Jumlah butir instrument yang
disusun berdasarkan indikator sebelum diujicoba berjumlah 15 butir. Setelah
diujicobakan ternyata seluruh butir adalah valid. Seluruh instrument yang
digunakan dalam penelitian adalah instrument-instrumen yang sahih dan handal
(valid dan reliable).
Table 2.1
Kisi-kisi Instrumen
Variabel Kecepatan Bongkar Muat
(X)
Variabel
|
Indikator
|
Nomor Butir
|
Jumlah
|
Kecepatan bongkar muat
|
- Perlengkapan Bongkar Muat
- Kualitas Sumber Daya Manusia
- Pemenuhan Standar Internasional
|
1,2,3
4,5,6
7,8,9,10
|
3
3
4
|
- Variable Kinerja Operasional
a. Definisi Konseptual
Kinerja Operasional adalah tingkat keberhasilan produktivitas dan efisiensi
penggunaan fasilitas / peralatan pelabuhan dalam melakukan kegiatan bongkar dan
muat pada periode tertentu yang didukung oleh kinerja terminal, gudang dan
lapangan penumpukan.
b. Definisi Operasional variabel Kinerja Operasional
Kinerja Operasional adalah jumlah muatan dan bongkaran barang yang melalui
dermaga dibagi panjang dermaga dalam satuan ton/m3 dalam satu periode (bulan/tahun)
yang melewati dermaga yang tersedia dalam satuan meter. Adapun faktor-faktor
yang mempengaruhi Kinerja dermaga diantaranya jenis, ukuran dan berat suatu
barang, SDM diantaranya pengetahuan, kemampuan dan keahlian, disiplin,
manajemen, peralatan seperti teknologi, sarana dan prasarana serta luas dan
panjang dermaga yang tersedia.
c. Instrumen Kinerja Operasional (Y)
Kisi-kisi untuk mengukur variabel kinerja operasional menggambarkan secara menyeluruh
butir-butir instrumen setelah diadakan uji coba untuk mengetahui validitas dan
reliabilitas instrument.
Jumlah butir instrument yang disusun berdasarkan indikator sebelum
diujicoba berjumlah 15 butir. Setelah diujicobakan ternyata seluruh butir
adalah valid. Seluruh instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah
instrumen-instrumen yang sahih dan handal (valid dan reliable).
Table 2.3
Kisi-kisi Instrumen
Variabel Pelayanan kapal (Y)
Variabel
|
Indikator
|
Nomor Butir
|
Jumlah
|
Kinerja Operasional
|
- Fasilitas tambat dan peralatan bongkar muat
- Kegiatan bongkar muat
|
1, 2, 3, 4, 5
6, 7, 8, 9,10
|
5
5
|